Sebagian besar kesedihan, kebosanan, atau kesulitan hidup itu, muncul dari larutnya seseorang pada pekerjaan yang serius secara terus-menerus yang menjadikannya jenuh, bosan, serta emosional. Atau dari musibah dan bencana besar yang merenggut kebahagiaannya. Salah satu terapinya adalah tersenyum, karena dapat menggairahkan kembali semangat kerja dengan kondisi spiritualitas yang tinggi, giat, dan bergairah.
Bahkan bagi orang-orang yang mampu tersenyum meski sedang dalam kesulitan, kata Syaikh Ahmad Amin, tidak hanya membuat hidup mereka lebih menyenangkan, tetapi lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang lebih produktif dalam bekerja dan memiliki kemampuan lebih untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Mereka lebih siap menghadapi kesulitan dan menemukan solusinya. Mereka adalah pekerja piawai, yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan juga orang lain.
Dari sini kita tahu kenapa kita harus tersenyum. Namun demikian, kita seringkali dikalahkan oleh beban yang berat itu. Diselimuti oleh duka dan kesedihan, sehingga tak kuasa untuk melakukannya.
Sesungguhnya, ada banyak hal yang bisa membuat kita tersenyum di tengah kepiluan, kesulitan, kesedihan, dan penderitaan. Hanya saja, kita terkadang melupakannya. Berikut ini adalah diantaranya.
1. Yakinlah kepada Allah dan lakukanlah perbuatan-perbuatan baik
Kehidupan ini tidak akan memiliki arti jika tanpa keyakinan dan keimanan di dalam diri kita. Tanpa keimanan dan keyakinan hati akan menjadi keruh, dan karena itu seseorang sulit tersenyum.
Siapa yang menginginkan kedamaian, ketenangan dan kenyamanan, akan mendapatkan itu semua dengan mengingat Allah, yang akan mensucikan hatinya dan menggoreskan keceriaan di wajahnya.
Jika kita yakin kepada Allah, mengenal dan menyembahNya, maka kita sudah mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, meskipun kita tinggal di sebuah bilik bambu atau gubuk yang terbuat dari potongan-potongan kardus.
Tetapi jika kita menyimpang dari jalan yang benar, kehidupan kita akan benar-benar berantakan, meskipun kita tinggal di rumah besar, mewah, dan nyaman. Ketika
permasalahan hidup lebih banyak menguasai relung hati kita daripada mengingat Allah Swt, berarti kita telah kehilangan kunci untuk mengajarkan diri kita bagaimana cara untuk tersenyum.
Keyakinan pada Allah akan mengantarkan kita kepada pemahaman yang sempurna, bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa, akan terjadi sesuai dengan takdir Allah. Keyakinan kita akan membukakan hati kita untuk menyadari sepenuhnya kebenaran firman Allah Swt, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu, dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat:22)
Dikisahkan, seorang bijak ditimpa musibah. Kemudian datanglah para sahabatnya untuk menghiburnya. Namun dalam deritanya, ia tetap tersenyum seraya berkata pada sahabatnya, “Aku telah menyediakan obat untuk kesulitanku, yang aku ramu dari enam bahan baku.” Para sahabatnya bertanya, “Apa saja enam bahan baku itu?” Ia menjawab, “Pertama, memiliki keyakinan kuat kepada Allah. Kedua, berserah diri pada ketetapan yang pasti yang akan terjadi. Ketiga, kesabaran yang tidak ada duanya, yang dapat memberikan efek positif kepada orang yang ditimpa musibah. Keempat, keimanan yang tak tergoyahkan untuk melakukan hal-hal yang telah aku sebutkan. Sebab tanpa menunjukkan daya tahan dan kesabaran, apa yang bisa aku selesaikan? Kelima, bertanya pada diriku sendiri, “Mengapa aku harus menjadi pelaku untuk kehancuran diriku sendiri. Yang keenam, meyakini bahwa dari satu jam ke jam berikutnya, keadaan selalu berubah dan kesulitan-kesulitan akan hilang.”
Orang bijak itu telah mengobati dirinya sendiri sebelum orang lain datang menawarkan obat untuknya. Ia telah mampu membuat dirinya tersenyum sebelum para sahabatnya datang untuk menghiburnya. Maka orang yang seperti ini tidak lagi membutuhkan dibahagiakan oleh orang lain, karena telah menemukan kebahagiaan bersama Tuhannya, Dzat yang telah memberikan ujian itu kepadanya, karena keyakinannya kepadaNya.
Keyakinan yang benar akan melahirkan pemahaman yang benar pula, bahwa boleh jadi apa yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita, meskipun kita tidak memahaminya. Dan atau kesulitan yang menimpa kita akan menjadi penghapus dosa-dosa kita. Maka, tersenyumlah kita atas dasar keyakinan kita pada Allah Swt.
2. Belajarlah dari orang-orang yang menderita dan bersyukurlah
Sesungguhnya, jika kita mau meluangkan waktu barang sejenak untuk merenungi nikmat-nikmat Allah yang kita terima, niscaya akan kita temukan nikmat-nikmat itu jauh lebih banyak dari yang luput dari kita. Bahkan pun, jika kita mau membandingkan apa yang diderita oleh orang lain, barangkali kita masih jauh lebih beruntung. Di luar sana, di seberang rumah kita ada orang-orang yang lebih menderita dari kita, namun mereka tetap gigih bertahan dengan kesabarannya.
Kita bukanlah satu-satunya orang yang mendapat masalah, dan masalah kita mungkin masih tergolong kecil dibandingkan penderitaan orang lain. Betapa banyak orang-orang sakit yang harus terbaring bertahun-tahun menahan rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,
Betapa banyak orang yang tidak bisa melihat cahaya matahari bertahun-tahun lamanya karena mereka sedang terpenjara, tidak mengetahui apapun kejadian di luar sana kecuali di empat pojok kamar selnya saja.
Betapa banyak suami istri yang kehilangan anak-anaknya di umurnya yang masih sangat muda. Betapa banyak orang yang tersiksa dan teraniaya di depan mata kita, dan seterusnya.
Tersenyum dan bersyukurlah kita dengan melihat orang lain yang kondisinya jauh lebih sulit dibandingkan kita. Bukankah kita tahu, bahwa hidup ini bagaikan penjara bagi orang-orang yang beriman, atau tempat penderitaan dan kesedihan?
Jadikan Rasulullah Saw sebagai teladan kita. Beliau, meski dilempari kotoran unta di kepalanya, kakinya berdarah, wajahnya terluka dan ia terperangkap di sebuah tempat di gunung sehingga terpaksa harus makan dedaunan. Beliau diusir dari Makkah. Gigi depannya tanggal dalam sebuah peperangan. Tujuh puluh sahabat terbaiknya terbunuh. Istrinya difitnah. Semua anak laki-lakinya meninggal. Bahkan beliau dituduh sebagai penyair, tukang sihir, orang gila, dan pendusta, namun beliau tetap tersenyum.
Hitunglah kembali, berapa banyak karunia Allah yang telah kita terima, dan setelah itu bersyukurlah kita atas karunia-karunia tersebut. Tunjukkan kesabaran kita atas karunia-karunia tersebut. Tunjukkan kesabaran kita jika Dia menjadikan kita orang miskin, dan tunjukkan rasa syukur kita jika Dia menjadikan kita seorang yang kaya. Tersenyumlah, karena ternyata kita tidak mengalami penderitaan ini sendiri. Banyak orang lain yang lebih menderita dari kita, dan mereka juga tetap tersenyum.
3. Tidak bergantung kepada selain Allah
Siapa saja yang menggantungkan harapan dan kepercayaan mutlaknya kepada siapapun atau apapun selain Allah, maka ia akan dirundung duka. Bahkan Allah akan menjadikan orang tersebut sangat bergantung kepadanya, dan hal itu akan dijadikan sebagai sebab kehancuran dirinya.
Hanya Allah Swt Dzat satu-satunya yang memberikan kehidupan, menyebabkan kematian, dan hanya Dia yang memberikan hartaNya kepada seluruh ciptaanNya, tak terkecuali kita. Maka mengapa kita harus bergantung kepada seseorang, atau takut gagal dalam usaha, atau khawatir kehilangan pekerjaan?
Fir’aun hancur karena bergantung pada kedudukan dan kekuasaannya. Qarun binasa karena hartanya. Umayyah bin Khalaf celaka karena perdagangannya, dan Al Walid sengsara karena anak-anaknya.
Abu Jahal hancur karena kedudukannya, Abu Lahab sengsara karena bangga akan keturunannya, dan Al Hajjaj celaka karena sikap sombong dan kekuatan dan kekuasaannya, penyair Al Mutanabbi juga binasa karena kepopulerannya.
Tetapi barangsiapa mencari kemuliaan Allah dan melakukan kebajikan karenaNya, maka Allah akan memuliakannya dan memberikan derajat yang tinggi walaupun ia tidak memiliki harta, kedudukan atau keturunan yang mulia.
Bilal dihormati karena ia seorang muadzin yang mengajak orang shalat. Salman dimuliakan karena keyakinannya terhadap hari akhir. Shuhaib dengan pengorbanannya, dan Atha’ dengan ilmu pengetahuannya.
Imam Ahmad disiksa dengan cambuk. Saat itu ia berada di ujung kematiannya dan tak ada seorang pun yang tergerak hatinya untuk menolongnya, namun ia tetap tersenyum dalam deritanya.
Ibnu Taimiyah ditangkap dan dinaikkan ke punggung seekor keledai, dihina dan dipertontonkan. Sekelompok orang yang kemudian menghadiri penguburannya tidak berbuat apapun ketika hal itu terjadi. Ibnu Taimiyah tidak meminta tolong kepada mereka. Ia tabah dan bersabar, seakan tidak mengalami penderitaan apa-apa.
Tersenyum hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang bersandar kepada Allah, yang tidak takut kehilangan apapun yang merupakan titipan dari Allah Swt. “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al Anfal: 64)
Nabi Muhammad saw mengatakan kepada Abu Bakar ra di dalam gua bahwa Allah selalu bersama mereka. Maka kedamaian dan ketenangan pun dapat mereka rasakan.
4. Belajarlah menghadapi kenyataan
Dalam hidup ini, jika kita tidak pernah memikirkan sesuatu yang tidak kita peroleh, maka nilai sesuatu itu pun akan berkurang dalam pandangan kita. Pun, jika kita merasa ridha dengan apa yang kita miliki atau belum sempat kita raih, padahal itu sesuatu yang kita inginkan, maka hati dan jiwa kita akan memperoleh ketenangan. Wajah kita pun akan mudah memancarkan keceriaan dan senyuman. Kegagalan dalam hidup tidak pernah membuat kita risau.
Namun ketika keserakahan lebih menguasai diri, sekecil apapun sesuatu yang hilang dari kita selalu akan berujung dengan amarah, kesedihan, dan penyesalan yang mendalam. Sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam firmanNya ketika menceritakan sikap orang-orang munafik, “Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah. Dan sekiranya mereka benar-benar ridha dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan RasulNya, dan mereka berkata, “Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At Taubah: 59)
Kenyataan dalam hidup kita, tidak selalu sejalan dengan keinginan kita. Dan itu sangat sering terjadi. Ada orang yang merasa telah bekerja keras, tetapi ia masih gagal. Ada pula orang yang harus menerima kenyataan kekurangan fisiknya. Karena itu, di sini kita harus belajar menghadapi kenyataan. Ya, kenyataan bahwa terkadang kita harus menerima realita hidup yang berbeda. Sebuah sikap yang biasa kita sebut ridha dan ikhlas.
Ada kisah tentang laki-laki yang terjatuh dari jendela. Cincin yang ia pakai terkait di sebuah paku, yang menyebabkan jari manisnya terputus, dan akhirnya ia pun hanya memiliki empat jari. Yang mengherankan bukan kejadian itu, tetapi kepasrahan dan keridhaan yang diperlihatkan orang tersebut setelah kejadian itu.
Ia berkata, “Tidak terlintas di pikiranku bahwa aku akan mempunyai empat buah jadi di sebelah tanganku. Namun ternyata, pekerjaanku baik-baik saja dan aku rela dengan apa yang telah terjadi. Allah telah membuat keputusanNya, dan bila Dia berkehendak, Dia akan melakukannya.”
Sungguh bijak orang ini, dan sungguh bijak orang yang mampu berkata dalam kekurangannya, “Puaslah dengan apa yang Allah telah jatahkan bagimu dan kamu akan menjadi orang yang terkaya.”
Ada kisah lain, ketika pertengkaran terjadi antara dua suku di Masjid Jami’ di Kufah. Ketika anggota masing-masing suku itu saling mengejek satu sama lainnya, seseorang yang berada di masjid dengan sigap segera keluar mencari Al Ahnaf bin Qais, yang terkenal sebagai juru damai. Orang itu mendapat Al Ahnaf sedang memerah susu kambingnya. Ia memakai pakaian yang kasar dan murah. Ia tampak lusuh dan muram. Bukan itu saja, salah satu kaki Al Ahnaf lebih panjang dari yang lainnya, yang membuatnya berjalan pincang.
Tetapi ketika Al Ahnaf berada di tengah orang-orang yang berselisih, mata mereka terfokus kepadanya dan mereka mendengarkan dengan seksama apa yang ia katakan. Ia mengucapkan kata-kata perdamaian, yang membuat senang semua pihak. Setelah itu, mereka semua setuju tanpa membantah dan pulang tanpa ada bekas perselisihan di wajah mereka. Kisah ini adalah bukti bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kesempurnaan fisik, kemewahan dan kekayaan, tapi kebahagiaan terdapat di dalam hati melalui keimanan, keridhaan, dan pengetahuan. Seperti yang dimiliki oleh seorang Al Ahnaf.
Pribadi yang mampu tersenyum dalam kesulitan dan keterbatasannya lebih dekat kepada kesuksesan daripada yang lainnya, sebab dengan mudah dia dapat menguasai hati orang lain. Karena itu Al Ashma’i berkata, “Dengan amal kamu sampai, dan dengan senyum kamu mendapatkan.”
Seseorang yang hatinya ternoda karena terpaku pada kegagalan atau kekurangannya, tidak akan bisa melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Setiap orang melihat dunia melalui dirinya sendiri, melalui tindakan, pikiran, dan motivasinya. Kalau tindakan kita mulia, pemikiran kita jernih, dan motivasi kita agung, maka kacamata yang kita pakai untuk melihat dunia pun akan bening dan dunia akan terlihat oleh kita sebagaimana adanya; sebuah penciptaan yang indah. Jika kacamatanya kotor, maka segala sesuatu akan tampak hitam dan mengerikan.
Ada jiwa-jiwa yang mampu mengubah segala sesuatu menjadi penderitaan, sedangkan ada juga jiwa yang mampu menghasilkan kebahagiaan dari kondisi yang paling sulit sekalipun.
Ada seorang laki-laki yang membawa penderitaan untuk dirinya sendiri, dan melalui wataknya itu dia menimpakan hal serupa kepada orang lain. Setiap kata yang dia dengar ditafsirkan dengan cara yang paling buruk. Dia benar-benar terpukul oleh hal-hal yang sangat sepele yang menimpanya disebabkan oleh perbuatannya. Dua menderita karena hilangnya keuntungan, sebab keuntungan yang dia harapkan tidak kunjung datang, atau karena sebab-sebab lainnya.
Seluruh dunia menurut pandangannya adalah hitam dan kelam, akhirnya dia menciptakan gelap bagi orang-orang di sekelilingnya. Orang yang seperti ini punya banyak kemampuan untuk membesar-besarkan hal yang remeh menimpanya, mengubah sekepal menjadi segunung. Kemampuan mereka untuk berbuat baik menjadi tumpul dan mereka tak pernah tersenyum, berbahagia ataupun merasa puas dengan apa yang mereka miliki, meskipun mereka telah memiliki banyak hal. Tak peduli seberapa besar kekayaan mereka, mereka tak akan pernah merasakan keberkahan apapun dari yang mereka miliki.
5. Berjalanlah di muka bumi
Satu aktivitas menarik yang layak untuk disebutkan di sini, karena dapat memberikan kesenangan dan menghapus awan hitam yang bergelayutan di atas kita, serta tentu saja mengajak kita untuk tersenyum. Aktivitas itu adalah keluar dan berjalan ke suatu tempat, memperhatikan ciptaan Allah di alam terbuka, dan menikmati serta mengagumi segala kehebatanNya. Di dalam perjalanan kita dapat melihat taman-taman yang indah dan lembah hijau yang segar.
Maka, keluarlah dari rumah dan pikirkanlah semua yang ada di sekeliling kita. Dakilah gunung, turunilah lembah, panjatlah pepohonan dan minumlah air murni yang segar dari mata airnya yang jernih, sehingga kita merasa bahwa jiwa kita akan bebas, sebebas burung yang bernyanyi dan terbang melayang di angkasa dengan gerakan yang sempurna. Keluarlah dari rumah dan lepaskanlah penutup mata kita. Berjalanlah mengarungi luasnya bumi Allah dengan mengingat dan memujiNya.
Menyendiri di kamar dengan menghabiskan waktu tanpa melakukan suatu kegiatan yang berguna adalah jalan pasti menuju kehancuran. Kamar kita bukan satu-satunya tempat di dunia ini, dan kita bukan satu-satunya penghuni dunia ini. Jadi mengapa kita begitu menyerah pada kesengsaraan dan keterkucilan? Lepaskan semua belenggu itu. Langkahkan kaki untuk menatap dunia luar sembari memulai tersenyum. Ungkapkan itu dengan mata, telinga, dan hati kita.
Di luar sana, jadilah kita seperti orang-orang yang difirmankan Allah, “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau.” (QS. Ali Imran: 191)
Tersenyum ketika menatap ciptaan Allah adalah ciri seorang Muslim. Bagaimana tidak, sementara dia telah rela Allah sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Nabinya.
Dia pun tahu, bahwa Allah telah menumbuhkan untuknya taman-taman yang sangat indah dan kebun yang hijau, di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman yang berpasang-pasangan begitu mempesona, nyiur melambai dengan eloknya, dan menjadikan untuknya bukit-bukit yang diselimuti oleh pesona keindahan.
Dia juga paham, bahwa Allah pula yang telah menciptakan untuknya bintang-bintang yang gemerlapan dan bertaburan di angkasa, lautan yang membentang, bumi yang terhampar dengan berbagai keelokannya.
Serta dia mengerti, bahwa burung-burung bernyanyi, merpati berkicau, matahari bersinar, bulan menerangi bumi, pagi datang menyeruak disinari cahaya matahari, dan air hujan senantiasa mengiringi awan, semua diciptakan untuknya.
Sebagai Muslim kita tidak boleh berputus asa. Mustahil segala sesuatu akan tetap bertahan. Hari dan tahun terus berputar, masa depan belum terlihat, dan setiap hari Allah pun memberikan sesuatu kepada kita. Mungkin kita tidak mengetahuinya, namun Allah pasti akan menjadikan sesuatu yang baru terjadi. Maka, tersenyumlah.










0 komentar:
Poskan Komentar